Kamis, 08 September 2016


IDENTIFIKASI PETANI GUREM DI INDONESIA

“Petani”, merupakan sebutan profesi yang tak asing lagi di Indonesia bahkan sudah melekat sejak zaman dahulu. Namun sebutan ini seringkali mendapat sorotan sebagai suatu golongan profesi yang tercermin miskin, memiliki untung sedikit, banyak hutang  dan lain-lain. Indonesia sebagai negara agraris sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, namun ironisnya petani-petani di Indonesia didominasi oleh petani gurem. Apa sih sebenarnya petani gurem itu ? mari kita kaji pengertian dari beberapa ahli berikut.
Ya dari beberapa pendapat ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petani gurem itu adalah sebutan bagi petani yang memiliki lahan yang sempit dan di Indonesia sendiri rata-rata kurang dari 0,5 Ha. Petani gurem ini pastinya bukan merupakan satuan individu  melainkan satuan keluarga sebab dalam melakukan usahatani dalam mempertimbangkan segala sesuatu hal terkait usahataninya pasti berdasar pertimbangan keluarga terutama istri dan anak mereka.
Berikut hasil sensus pertaniain mengenai jumlah rumah tangga usaha pertananian menurut golongan lahan yang dikuasai :
Tabel 1. Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Menurut Golongan Luas Lahan yang Dikuasai Tahun 2003 dan 2013
No.
Golongan Luas Lahan (m2)
Jumlah (Rumahtangga)
2003
2013
1.
<1000
9.380.300
4.338.847
2.
1000-1.999
3.602.348
3.550.185
3.
2000-4.900
6.816.943
6.733.364
4.
5000-9.999
4.782.812
4.161.872
5.
10.000-19.999
3.661.529
3.725.865
6.
20.000-29.999
1.678.356
1.632.434
7.
≥ 30.000
1.309.896
1.608.699
Total
26.144.469
26.135.469

Dari hasil sensus pertanian tahun 2003 dan 2013 diatas pada tahun 2003 terlihat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,50 Ha (5.000 m2) mendominasi jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia. Kondisi yang hampir serupa terjadi pada tahun 2013. Tercatat bahwa pada tahun 2013, jumlah rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai kurang dari 0,10 Ha adalah sebesar 4,34 juta rumah tangga, hal ini mengalami penurunan sebesar 53,75 persen dibandingkan tahun 2003, yang tercatat sebanyak 9,38 juta rumah tangga. Rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan yang dikuasai antara 0,10–0,19 Ha pada tahun 2013 adalah sebanyak 3,55 juta rumah tangga, menurun sebesar 1,45 persen bila dibandingkan dengan tahun 2003 yang tercatat sebanyak 3,6 juta rumah tangga.  Golongan luas lahan 0,20–0,49 Ha tercatat mempunyai jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 6,73 juta rumah tangga pada2013, menurun sebanyak 83,58 ribu rumah tangga jika dibandingkan tahun 2003. Sehingga pada tahun 2013 jumlah petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha adalah sebanyak 14,6 juta rumah tangga petani.
Sedangkan untuk golongan luas lahan yang dikuasai lebih dari 0,50 Ha (5.000 m2), jumlah usaha rumah tangga pertanian hasil tahun 2013 sedikit meningkat dibandingkan dengan hasil  tahun 2003. Untuk rumah tangga usaha pertanian dengan luas lahan lebih dari 0,50 Ha tahun 2003 adalah sebanyak 11,43 juta rumah tangga. Angka ini sedikit meningkat (0,70 persen) daripada 2013, yaitu menjadi sebanyak 11,51 juta rumah tangga. Hal yang menarik yang perlu dicermati adalah masih terdapat rumah tangga usaha pertanian yang menguasai lahan kurang dari 0,10 Ha pada 2013, meskipun jumlahnya menurun tajam dibanding  2003. Rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan ternyata mendominasi rumah tangga usaha pertanian di Indonesia.
Dari sebanyak 26,14 juta rumah tangga usaha pertanian di Indonesia, sebesar 98,53 persen merupakan rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan (25,75 juta rumah tangga). Sedangkan rumah tangga usaha pertanian bukan pengguna lahan hanya sebesar 1,47 persen, atau sebanyak 384.191 ribu rumah tangga.
Rumah tangga pertanian pengguna lahan dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu:
1.       Rumah tangga petani gurem (rumah tangga usaha pertanian penggunaan lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,50 Ha)
2.      Rumah tangga bukan petani gurem (rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan 0,50 Ha atau lebih).
Hasil tahun 2013 menunjukkan bahwa dari sebesar 98,53 persen rumah tangga usaha pertanian pengguna lahan, sebesar 55,33 persennya (14,25 juta rumah tangga) merupakan rumah tangga petani gurem, sedangkan rumah tangga bukan petani gurem sebesar 44,67 persen  (11,50 juta rumah tangga). Berikut data petani gurem di Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia:



Tabel 2. Hasil Sensus Pertanian tahun 2013 Rumah Tangga Petani Pengguna Lahan dan Petani Gurem di Indonesia
No.
Provinsi
Rumah Tangga Petani Pengguna Lahan
Jumlah Petani Gurem
Prosentase Petani Gurem (%)
Prosentase petani gurem tiap  provinsi  dibandingkan dengan total petani gurem nasional (%)
1.
Aceh
637.778
276.729
43,39
1,94
2.
Sumatera Utara
1.308.392
570.184
43,58
4,00
3.
Sumatera Barat
640.695
275.135
42,94
1,93
4.
Riau
568.070
68.568
12,07
0,48
5.
Jambi
426.647
65.499
15,35
0,46
6.
Sumatera Selatan
949.801
110.932
11,68
0,78
7.
Bengkulu
275.559
35.974
13,05
0,25
8.
Lampung
1.218.927
362.148
29,71
2,54
9.
Kep.Bangka Belitung
117.488
26.069
22,19
0,18
10.
Kep.Riau
50.230
20.545
40,90
0,14
11.
DKI Jakarta
9.515
8.611
90,50
0,06
12.
Jawa Barat
3.039.716
2.298.193
75,61
16,13
13.
Jawa Tenggah
4.262.608
3.312.235
77,70
23,25
14.
DIY
495.401
424.557
85,70
2,98
15.
Jawa Timur
4.931.502
3 .755.833
76,16
26,36
16.
Banten
584.259
379.888
65,02
2,67
17.
Bali
404.507
257.181
63,58
1,80
18.
Nusa Tenggara  Barat
587.617
350.130
59,58
2,46
19.
Nusa Tenggara timur
770.864
289.917
37,61
2,03
20.
Kalimantan Barat
616.895
81.287
13,18
0,57
21.
Kalimantan Tengah
261.227
29.083
11,13
0,20
22.
Kalimantan Selatan
420.352
133.853
31,84
0,94
23.
Kalimantan Timur
165.413
27.326
16,52
0,19
24.
Kalimantan Utara
39.369
6.343
16,11
0,04
25.
Sulawesi Utara
246.394
72.055
29,24
0,51
26.
Sulawesi Tengah
387.258
74.073
19,13
0,52
27.
Sulawesi Selatan
950.241
338.108
35,58
2,37
28.
Sulawesi Tenggara
299.926
63.809
21,27
0,45
29.
Gorontalo
117.251
40.962
34,94
0,29
30.
Sulawesi Barat
179.814
50.696
28,19
0,36
31.
Maluku
170.169
78.140
45,92
0,55
32.
Maluku Utara
127.865
21.857
17,01
0,15
33.
Papua Barat
65.458
37. 570
57,39
0,26
34.
Papua
424.058
305.380
72,01
2,14
TOTAL
25.751.266
14.248.870
55,33 (rata-rata)
100 %

Gambar 1. Prosentase Perbandingan Jumlah Rumah Tangga Petani Gurem dan Bukan Gurem di Indonesia
Dari data tabel 1 diatas dapat dibuat diagram seperti gambar 1 tersebut diatas. Dari bagan tersebut dapat dibaca bahwa prosentase petani gurem di Indonesia lebih besar daripada petani nongurem. Jumlah petani gurem sebesar 53% sednagkan petani nogurem hanya 47%.
Berdasarkan data tabel 1. diatas dapat dilihat bahwa petani yang pengguna lahan paling banyak terdapat di provinsi Jawa Timur, kedua Jawa Tenggah dan ketiga Jawa Barat begitu pula dengan petani gurem yang berada di provinsi tersebut paling banyak di Indonesia. Ternyata prosentase petani gurem paling banyak terjadi di Jawa. Terutama di Jawa Timur jumlah petani gurem mencapai 26,36 % dari seluruh jumlah petani gurem di Indonesia. Provinsi kedua dengan prosentase petani gurem terbanyak di Indonesia adalah Jawa Tenggah yakni sebesar 23% petani gurem Indonesia berada di Jawa Tenggah. Dan provinsi urutan ketiga dengan prosentase petani gurem terbanyak adalah Jawa Barat yakni sebesar 16,13% dari seluruh petani gurem di Indonesia. Bila kita bandingkan dengan provinsi-provinsi diluar Jawa prosentase petani gurem sangat rendah dan rata-rata kurang dari 2%.  Ternyata jumlah petani gurem paling banyak berada di Jawa. Hal ini memang wajar mengingat jumlah penduduk di Jawa yang sangat padat dan mayoritas penduduk Jawa berprofesi sebagai petani. Sehingga permintaan akan lahan pertanian di Jawa sangat tinggi baik untuk usahatani maupun perumahan, sementara luas lahan yang tresedia sangat terbatas. Bila kita kaitkan dengan hukum penawaran-permintaan dalam ekonomi , bila terjadi surplus permintaan sementara penawaran rendah maka harga akan melonjak naik. Hal ini yang menyebabkan harga tanah di Jawa jauh lebih mahal bila kita bandingkan dengan luar Jawa . kemampuan petani dalam membeli lahan pertanian semakin menurun hal inilah yang menyebabkan jumlah petani di Jawa sangat tinggi. Sementara di luar Jawa ketersediaan lahan pertanian sangat luas sementara jumlah penduduk sangat sedikit begitupula dengan jumlah petaninya. Sementara terjadi surplus   penawaran lahan oleh sebab itu harga lahan di luar Jawa sangat murah. Bila di Jawa rata-rata harga lahan pertanian Rp 1.000.000.000/Ha namun di luar jawa hanya Rp 150.000.000/Ha, sungguh angka yang sangat berbeda jauh. Karena itulah luas lahan petani di luar jawa luas-luas berbeda dengan petani di Jawa yang sempit-sempit.
Bila digambarkan dengan peta persebaran rumah tangga petani gurem tahun 2013 dapat dilihat dalam peta dibawah berikut. Dari peta dibawah ini dapat dilihat bahwa pulau Jawa secara keseluruhan termasuk Bali, Lombok, NTT, NTB Aceh, Riau, Kep.Riau dan Papua Timur memiliki jumlah petani gurem lebih dari 160 ribu rumahtangga petani. Namun untuk daerah kalimantan dan sulawesi umlah petani gurem relatif lebih sedikit dikarenakan jumlah penduduk yang sedikit, sehingga lahan yang tersediapun sangat luas dan diwilayah ini didominasi oleh subsektor perkebunan
Gambar 2. Peta Sebaran Rumah Tangga Petani Gurem, Sensus Tahun 2013
Grafik  2  Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian di Indonesia Menurut Subsektor, 2003 dan 2013
Subsektor Tanaman Pangan terlihat mendominasi usaha pertanian di Indonesia. ST2013 mencatat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak di Indonesia adalah di Subsektor Tanaman Pangan dan Subsektor Peternakan. Jumlah rumah tangga usaha pertanian Subsektor Tanaman Pangan adalah sebanyak 17,73 juta rumah tangga dan jumlah rumah tangga usaha pertanian Subsektor Peternakan adalah sebanyak 12,97 juta rumah tangga.
Subsektor Perikanan yang terdiri dari kegiatan Budidaya Ikan dan kegiatan Penangkapan Ikan, merupakan subsektor yang memiliki jumlah rumah tangga usaha pertanian paling sedikit dari hasil ST2013. Jumlah rumah tangga usaha pertanian Subsektor Perikanan kegiatan Penangkapan Ikan sebanyak 0,86 juta rumah tangga, kegiatan Budidaya Ikan sebanyak 1,19 juta rumah tangga.
Penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar hasil ST2013 dibandingkan ST2003 terjadi di Subsektor Hortikultura, yang mencapai 37,40 persen (6,34 juta rumah tangga). Sedangkan pada periode yang sama, Subsektor Kehutanan mengalami penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian paling rendah, yaitu tercatat hanya sebesar 0,66 persen (44,98 ribu rumah tangga).
 Hasil ST2013 mencatat bahwa jumlah rumah tangga jasa pertanian Subsektor Tanaman Pangan adalah sebesar 598 ribu rumah tangga. Sedangkan jumlah rumah tangga pertanian paling sedikit tercatat pada Subsektor Peternakan, yaitu sebanyak 63,63 ribu rumah tangga. Subsektor Hortikultura tercatat memiliki jumlah rumah tangga jasa pertanian sebanyak 99,63 ribu rumah tangga, sedangkan Subsektor Perkebunan, Perikanan, dan Kehutanan memiliki jumlah rumah tangga jasa pertanian masing-masing sebanyak 241,86 ribu, 79,49 ribu, dan 166,07 ribu rumah tangga. Apabila dikaji menurut provinsi, terlihat bahwa Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah rumah tangga jasa pertanian terbanyak (213,66 ribu rumah tangga), sedangkan Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan jumlah rumah tangga jasa pertanian paling sedikit (549 rumah tangga).
Penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar hasil tahun 2013 dibandingkan tahun 2003 terjadi di Subsektor Hortikultura, yang mencapai 37,40 persen (6,34 juta rumah tangga). Sedangkan pada periode yang sama, Subsektor Kehutanan mengalami penurunan jumlah rumah tangga usaha pertanian paling rendah, yaitu tercatat hanya sebesar 0,66 persen (44,98 ribu rumah tangga).




Tabel 2. Jumlah Rumah Tangga Jasa Pertanian Menurut Provinsi dan Subsektor Tahun 2013
No
Provinsi
Subsektor (rumah tangga petani)
Pangan
Horti
Perkebunan
Peternakan
Perikanan
Kehutanan
1
Aceh
16 572
2 266
6 069
1 557
1 194
1 394
2
Sumatera Utara
20 974
4 880
14 368
2 736
4 667
13 008
3
Sumatera Barat
26 185
2 415
17 194
1 555
3 841
5 545
4
R i a u
6 475
2 058
31 614
1 847
1 758
1 232
5
J a m b i
2 696
1 100
6 408
651
574
2 195
6
Sumatera Selatan
29 549
3 759
22 260
3 113
5 375
43 189
7
Bengkulu
2 974
676
3 555
209
223
540
8
Lampung
31 084
4 045
9 746
1 795
3 728
5 263
9
Kepulauan Bangka Belitung
695
485
3 467
249
371
619
10
Kepulauan Riau
195
422
839
136
192
806
11
DKI Jakarta
100
249
-
149
69
10
12
Jawa Barat
83 022
13 985
8 670
12 684
7 293
13 803
13
Jawa Tengah
74 032
9 446
11 211
5 060
12 736
14 722
14
DI Yogyakarta
7 297
2
4
826
1
16
15
Jawa Timur
137 371
31 011
43 318
14 397
9 301
10 173
16
Banten
16 605
3 558
2 650
2 400
2 214
15 083
17
B a l i
2 656
679
1 007
530
484
370
18
Nusa Tenggara Barat
11 988
1 139
1 377
461
232
1 016
19
Nusa Tenggara Timur
14 663
1 544
3 496
2 346
2 709
5 222
20
Kalimantan Barat
13 400
2 746
13 928
2 703
9 593
6 218
21
Kalimantan Tengah
5 808
1 513
4 936
1 011
2 014
3 443
22
Kalimantan Selatan
16 764
1 725
3 553
840
1 375
5 166
23
Kalimantan Timur
3 603
1 454
2 629
611
1 504
684
24
Kalimantan Utara
739
324
296
193
667
280
25
Sulawesi Utara
5 003
1 687
5 933
1 242
1 076
1 922
26
Sulawesi Tengah
10 618
880
7 285
528
550
1 239
27
Sulawesi Selatan
40 922
1 789
4 313
1 884
2 347
4 551
28
Sulawesi Tenggara
4 372
278
2 021
189
744
2 113
29
Gorontalo
3 618
737
1 032
526
405
1 268
30
Sulawesi Barat
3 712
638
3 981
224
137
1 211
31
M a l u k u
1 369
550
2 401
173
609
1 322
32
Maluku Utara
257
159
730
139
275
331
33
Papua Barat
645
887
1 030
277
805
1 173
34
Papua
2 036
547
542
389
429
947
Indonesia
760.147
99.633
258.863
66.073
79.492
164.752




Tabel 3. Prosentase jumlah petani pengusaha perkomoditas
No.
Provinsi
T.Pangan (%)
Horti (%)
Perkebunan (%)
Peternakan (%)
Perikanan (%)
Kehutanan (%)
1
Aceh
2,18
2,27
2,51
2,30
1,50
0,64
2
Sumatera Utara
2,76
4,90
5,51
4,05
5,87
5,94
3
Sumatera Barat
3,44
2,42
6,64
2,03
4,83
2,53
4
R i a u
0,85
2,07
12,21
2,73
2,21
0,56
5
J a m b i
0,35
1,10
2,48
0,96
0,71
1
6
Sumatera Selatan
3,89
3,77
8,60
4,60
6,67
19,71
7
Bengkulu
0,39
0,68
1,37
0,31
0,28
0,25
8
Lampung
4,09
4,06
3,76
2,65
4,69
2,40
9
Kepulauan Bangka Belitung
0,09
0,49
1,34
0,37
0,47
0,28
10
Kepulauan Riau
0,03
0,42
0,32
0,20
0,24
0,37
11
DKI Jakarta
0,01
0,25
0
0,22
0,09
0
12
Jawa Barat
10,92
14,04
3,35
18,75
9,17
6,30
13
Jawa Tengah
9,74
9,48
4,33
7,48
16,02
6,72
14
DI Yogyakarta
0,96
0
0
1,22
0
0
15
Jawa Timur
18,07
31,13
16,73
21,29
11,70
4,64
16
Banten
2,18
3,57
1,02
3,55
2,79
6,88
17
B a l i
0,35
0,68
0,39
0,78
0,61
0,17
18
Nusa Tenggara Barat
1,58
1,14
0,53
0,68
0,29
0,46
19
Nusa Tenggara Timur
1,93
1,55
1,35
3,47
3,41
2,38
20
Kalimantan Barat
1,76
2,76
5,38
4,00
12,07
2,84
21
Kalimantan Tengah
0,76
1,52
1,91
1,49
2,53
1,57
22
Kalimantan Selatan
2,21
1,73
1,37
1,24
1,73
2,36
23
Kalimantan Timur
0,47
1,46
1,02
0,90
1,89
0,31
24
Kalimantan Utara
0,10
0,33
0,11
0,29
0,84
0,13
25
Sulawesi Utara
0,66
1,69
2,29
7,75
1,35
0,88
26
Sulawesi Tengah
1,40
0,88
2,81
0,78
0,69
0,57
27
Sulawesi Selatan
5,38
1,80
1,67
2,79
2,95
2,08
28
Sulawesi Tenggara
0,58
0,28
0,78
0,28
0,94
0,96
29
Gorontalo
0,48
0,74
0,40
2,79
0,51
0,58
30
Sulawesi Barat
0,49
0,64
1,54
0,33
0,17
0,55
31
M a l u k u
0,18
0,55
0,93
0,26
0,77
2,480
32
Maluku Utara
0,03
0,16
0,28
0,21
0,35
0,15
33
Papua Barat
0,08
0,89
0,40
0,41
1,01
0,54
34
Papua
1,98
0,55
0,21
0,58
0,54
0,43
Total
100
100
100
100
100
100




Dari data diatas dapat dilihat secara detail bagaimana persebaran berbagai komoditi pertanian di berbagai provinsi di Indonesia. Kita mulai dari komoditas pangan, dimana komoditi ini paling banyak diusahakan oleh petani diberbagai provinsi. Untuk komoditas pangan ini masih paling banyak diusahakan di Jawa. Dimana dengan jumlah tertinggi terdapat di Provinsi Jawa Timur sebanyak 137.371 atau sebesar 18,7% dari seluruh jumlah petani pangan. Kemudian disusul oleh Jawa Barat sebanyak 83.022 rumahtangga petani atau sebesar 10,09%. Kemudian Jawa Tengah sebanyak 74.032 rumah tangga petani atau 9,72%. 
Kita beralih ke komoditas hortikultura, pada tahun 2013 komoditas hortikultura ini paling banyak diusahakan masih di Jawa dan lagi-lagi Jawa Timur menduduki urutan pertama yang mengusahakan komoditi hortikultura dengan jumlah 31.011 rumah tangga petani atau sebesar 31,13%, kemudian Jawa Barat sebanyak 83.022 rumah tangga petani atau 14,04%, kemudian disusul oleh Jawa Tengah 74.032 rumah tangga petani atau 9,48%. Dan provinsi yang paling rendah mengusahakan komoditas hortikultura adalah DIY hanya 2 rumahtangga petani saja yang mengusahakannya bisadikatakan 0%. Sedangkan di pulau Kalimantan paling banyak diusahakan di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 1,73%. Sedangkan untuk pulau Sulawesi  paling banyak diusahakan di Provinsi Sulawesi Selatan khusunya di daerah Kendari  sebesar 1,80%, dimana komoditas unggulannya adalah buah nanas sebesar. Sementara di  pulau Sumatera yang paling banyak mengusahakan hortikultura adalah Provinsi Sumatera Utara.
Kemudian pada subsektor perkebunan, paling banyak terdapat di provinsi Jawa Timur dengan 43.318 rumah tangga petani yang mengusahakannya atau sebesar 16,73%. Kemudian kedua adalah provinsi Riau yakkni 31.614 rumah tangga petani atau sebesar 12,21% dari seluruh jumlah petani pekebun seluruh Indobesia dimana komoditas utama di Riau ini adalah Kelapa Sawit, selain banyak perkebunan-perkebunan perusahaan namun di Riau juga banyak sekali perkebunan sawit rakyat. Kemudian provinsi ketiga yang mengusahakan komditas perkebunan terbanyak adalah Sumatera Barat  sebesar 6,64% masih dengan komoditas utamanya adalah kelapa sawit.
Selanjutnya adalah subsektor Peternakan, untuk peternakan ini paling banyak diusahakan di Jawa Timur sebanyak 14.397 rumah tangga petani 21,29%, dan Jawa Barat Jawa Barat sebanyak 12.684 rumah tangga petani 18,75%  yang mengusahakannya. Untuk diluar jawa peternakan ini masih belum begitu diminati oleh petani. Untuk di Jawa sendiri mayoritas ternak yang diusahakan adalah sapi, kambing, ayam dan bebek.
Beralih ke subsektor perikanan, peringkat tertinggi diduduki oleh Jawa Tenggah sebanyak 12.736 nelayan atau 16,2% nelayan dari seluruh nelayan di Indonesia, kemudian kedua adalah Kalimantan Barat sebanyak 9.593 rumah tangga nelayan atau 12,07%. Dan peringkat ketiga adalah Jawa Timur sebanyak 9.301 rumahtangga nelayan atau 11,70%. Provinsi DIY merupakan provinsi dengan jumlah nelayan paling sedikit yakni hanya 1 rumahtangga nelayan. Sebab di daerah DIY mayoritas masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani dengan komoditas tanaman pangan yang menjadi andalannya.
Untuk subsektor yang terakhir yakni subsektor kehutanan, Sumatera Selatan merupakan provinsi yang paling banyak memiliki tenaga kerja yang bertumpu pada sektor kehutanan ini hingga mencapai 19,71% dari seluruh jumlah petani yang berusaha di sektor kehutanan, mengingat luasa hutan yang berada di provinsi masih sangat luas, sehingga banyak penduduk yang bertumpu pada keberadaan hutan ini, mulai dari mencari kayu bakar, menyulang air gula aren, mencari rotan, bambu, kayu dn lain-lain. Kemudian provinsi kedua adalah Banten sebanayk 15.083 rumah tangga yang bekerja di subsekor ini atau sebesar 6,88%.











NB: seluruh data yang tersaji bersumber dari Badan Pusat Statistik, Laporan Hasil Sensus Pertanian 2013 dan telah diolah oleh Penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga bermanfaat